Simulasi Penanggulangan Bencana, Apakah Perlu?

Artikel-Mu 06 Jun 2026 23:22 5 min read 99 views By Ambyah

Share berita ini

Simulasi Penanggulangan Bencana, Apakah Perlu?
Melalui pelatihan kebencanaan, kita dapat membangun masyarakat yang tangguh bencana. Edukasi dan simulasi rutin yang melibatkan semua masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Di awal bulan tanggal 2-4 Juni 2026, TNI Angkatan Laut  menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam, kegiatan berlangsung di area Pantai Pancer Door Pacitan, sebagai salah satu kegiatan pembinaan potensi maritim.

 

Kegiatan ini melibatkan TNI/Polri, Basarnas, BPBD, Pemda, ORARI dan unsur masyarakat lainnya, tidak kurang dari 200 personil terlibat langsung dalam kegiatan ini.

 

Begitu banyaknya unsur yang terlibat dalam kegiatan timbul pertanyaan : “Seberapa penting simulasi penanggulangan bencana atau seringkali dikenal dengan istilah emergency drill ??”

 

Berikut adalah catatan Agus Hadi Prabowo  (Callsign YB3HQM) – Ketua ORARI Lokal Pacitan, yang mengamati dan terlibat langsung selama kegiatan Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam yang diselenggarakan TNI AL tersebut.

Dalam kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam ini dalam prakteknya adalah simulasi penanggulangan bencana alam.

 

Pertama, dalam pelaksanaan simulasi yang dilakukan, dalam skenario kegiatan ada upaya menerapkan asas dan prinsip penanggulangan bencana sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

 

Asas penanggulangan bencana adalah : 
a. kemanusiaan;
b. keadilan;
c. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
d. keseimbangan, keselarasan, dan keserasian;
e. ketertiban dan kepastian hukum;
f. kebersamaan;
g. kelestarian lingkungan hidup; dan
h. ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sedangkan prinsip penanggulangan bencana adalah :

a. cepat dan tepat;
b. prioritas;

c. koordinasi dan keterpaduan;
d. berdaya guna dan berhasil guna;
e. transparansi dan akuntabilitas;
f. kemitraan;
g. pemberdayaan;
h. nondiskriminatif; dan
i. nonproletisi.

 

Kedua, kegiatan simulasi penanggulangan bencana alam khususnya gempa bumi dan tsunami (emergency drill), sangat direkomendasikan dilakukan secara berkelanjutan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Jika selama ini penyelenggara kegiatan simulasi penanggulangan bencana ataupun kegiatan pengurangan risiko bencana  adalah dari pemerintah daerah/BPBD, dan TNI/Polri, maka kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana seharusnya bisa dilakukan oleh masyarakat  secara mandiri, dan ini perlu disosialisasikan.

 

     Ketiga, Kegiatan emergency drill atau simulasi penanggulangan bencana alam (gempa dan tsunami) ada beberapa hal yang fokus jadi  perhatian :

 

Skenario emergency drill yang realistis dan relevan

Titik berat simulasi adalah penanggulangan bencana alam gempa dan tsunami, maka yang dilibatkan ya personil yang di darat (Dinas Kesehatan, PMI, Dishub, dll) dan perairan (TNI AL, Kamladu, Basarnas, dll) dengan segala ketrampilan dan peralatan yang dimiliki.

 

Komunikasi yang Jelas

Adanya panduan/skenario, urutan kegiatan sebelum, selama, dan setelah emergency drill. Hal ini memberi informasi bahwa latihan sedang berlangsung, skenarionya, dan apa yang diharapkan dari mereka.

 

Melibatkan semua pihak

Penanggulangan bencana untuk pengurangan risikonya adalah tanggung jawab bersama. Sangat disayangkan jika ada pihak-pihak yang tidak merespon positif emergency drill yang diselenggarakan oleh TNI AL, lepas dari alasan sibuk, tidak sempat mewakilkan, dan lainnya.

Seharusnya pemangku kepentingan di daerah hendaknya berpartisipasi dalam latihan untuk memastikan memahami prosedur tanggap darurat/emergency, sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.

 

Peran yang ditunjuk dalam skenario

Untuk menetapkan suatu daerah dinyatakan bencana ada kejadian-kejadian yang mendahului, misalnya adanya gempa yang dirasakan, laporan akibat gempa, informasi dari BNPB/BMKG dan seterusnya sampai diadakannya forum rapat Forkompimda dan diterbitkannya  Surat Keputusan Bupati yang menyatakan adanya tanggap darurat bencana.

Dari semua rangkaian itu ditetapkan dan ditunjuk pemeran sebagaimana skenario yang ada.

 

Adanya briefing ulang dan perbaikan skenario

Pada hari ketiga (4 Juni) dilaksanakan simulasi dua kali. Latihan pertama tidak sampai selesai dihentikan karena ada feed-back dan perbaikan skenario.

Setelah ada perbaikan dan feed-back latihan simulasi tanggap darurat pada akhirnya dilaksankan sampai selesai sebagaimana skenario yang ada.       

               

     Keempat, Dari kegiatan emergency drill yang diselenggarakan oleh TNI AL tersebut ada beberapa saran untuk kita semua :

a.  Momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang diperingati setiap tanggal 26 April menjadi motivasi bagi masyarakat secara umum untuk lebih memperharikan pengurangan risiko bencana secara mandiri, mengingat wilayah Kabupaten Pacitan adalah bagaikan etalase potensi risiko bencana. 

Dengan adanya kegiatan emergency drill maupun pelaksanaan kegiatan HKB secara serius, setidaknya akan berdampak menghindari kebingungan, ataupun panik untuk menyelematkan diri, dengan kalimat lain orang per orang atau kelompok/komunitas/lembaga/institusi memiliki rencana operasional pengurangan risiko bencana/darurat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana operasional adalah :

1)  kenali gejalanya, informasi dari lembaga resmi pemerintah BPBD/BMKG;

2)  dalam keadaan darurat menetapkan titik kumpul dan daerah aman/perlindungan;

3)  menetapkan personil/petugas/PIC sebagai informan dan juga pemandu untuk menuju tempat aman/perlindungan;

 

b.  Wilayah Pacitan bagaikan etalase potensi risiko bencana, sehingga  tidak membatasi pada satu jenis keadaan darurat untuk disimulasikan, menyesuaikan dengan lokasi wilayah dan lingkungan secara tepat.

 

c.   Selalu memperbarui (update) rencana operasional darurat yang telah disusun sesuai dengan perkembangan dan kondisi wilayah/lingkungan, seperti memperbarui rute evakuasi, meningkatkan metode komunikasi, atau memberikan pelatihan tambahan.

 

Dengan adanya pelatihan kebencanaan, kita berusaha membangun masyarakat yang tangguh bencana. 

Pendidikan dan simulasi penanggulangan bencana secara rutin yang melibatkan semua masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Salam tangguh….

[Ambyah]

Cokro15
Chat with us on WhatsApp