Dimulainya Fase Armuzna Bagi Jemaah Haji
Berdasarkan jadwal dalam Rencana Perjalanan Haji Kemenhaj RI, puncak ibadah haji akan dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 atau bertepatan dengan 8 Zulhijjah 1447 H.
Pada hari ini, seluruh jemaah Haji akan diberangkatkan secara bertahap menuju Padang Arafah, tempat seluruh jemaah haji menundukkan diri, instropeksi, memohon ampunan, dan mengetuk pintu rahmat Allah SWT.
Perjalanan menuju Arafah bukan sekadar perpindahan tempat atau evakuasi, melainkan ini adalah perjalanan spiritual dan rohani yang sarat akan makna.
Di Arafah inilah setiap perbedaan status, jabatan, dan kekayaan melebur menjadi satu dalam balutan kain ihram berwarna putih. Semua tunduk patuh, dan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta, membawa harapan agar pulang sebagai haji yang mabrur, yang balasannya tiada lain adalah surga.
Berikut beberapa rangkaian kegiatan Armuzna yang akan dilakukan oleh jemaah haji yang memilih haji tamattu’, berusaha memberikan gambaran kepada kita yang saat ini belum berkesempatan ke Tanah Suci :
|
Tanggal |
Uraian Kegiatan/Keterangan |
|
8 Dzulhijjan 1447 (25 Mei 2026) |
· Jemaah haji melakukan persiapan menuju puncak ibadah dengan mandi sunnah, mengenakan pakaian ihram dari pemondokan, dan berniat haji sejak dari hotel masing-masing. · Secara bertahap jemaah diberangkatkan ke Arafah menggunakan bis, sesuai jadwal yang sudah ditetapkan untuk masing-masing kloter. · Jarak dari hotel jemaah di Makkah sampai padang Arafah antara 21 – 30 km, dan ditempuh mulai dari 30 menit hingga 3 jam bisa lebih – variatif, sangat bergantung pada kepadatan lalu lintas dan posisi tenda jemaah di Arafah. · Setibanya di Arafah, sepanjang waktu diisi dengan zikir, membaca Al-Quran, berdoa, dan memperbanyak talbiyah untuk memohon rida dan rahmat Allah SWT sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah. |
|
Titik kritis di Arafah sebelum wukuf : ü Space/ruang yang tersedia bagi setiap jemaah terbatas di dalam tenda Arafah, sehingga tingkat kenyamanan, dan lainnya sangat berbeda dengan di hotel. ü Jemaah masih memakai kain ihram, untuk itu hindari pelanggaran terkait dengan ihram. ü Keterbatasan sarana sanitasi, budaya antri dan kesabaran sangat diperlukan. |
|
|
o Sebagian jemaah melakukan sunnah Tarwiyah dengan bermalam (mabit) di Mina. o Secara resmi pemerintah tidak melarang jemaah yang ingin melaksanakan ibadah Tarwiyah, namun pemerintah juga tidak menganjurkan dan tidak memfasilitasi kegiatan tersebut. o Kebijakan tidak memfasilitasi diambil demi kemaslahatan, menjaga keselamatan, dan menghemat fisik ratusan ribu jemaah agar tetap prima untuk menjalani rukun haji inti. o Bagi jemaah yang menjalankan Tarwiyah, segala kebutuhan logistik, transportasi, dan akomodasi selama prosesi tersebut ditanggung secara mandiri oleh jemaah yang bersangkutan. o Karena sesuatu lain hal terhalang tidak bisa masuk kawasan Arafah sehingga tidak bisa wukuf menjadi tanggung jawab jemaah yang bersangkutan. |
|
|
9 Dzulhijjah 1447 (26 Mei 2026) |
· Masuk waktu dhuhur, jemaah menyimak dan memperhatikan : khutbah wukuf. · Melaksanakan shalat jemaah Dhuhur dan Ashar dengan jamak qasar taqdim · Pelaksanaan wukuf hingga menjelang maghrib, jemaah dianjurkan berdiam diri, mengisi waktu dengan ibadah sebanyak-banyaknya, di antaranya : berdzikir, membaca istighfar, memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, berdoa, tafakur, bermuhasabah dan lainnya. |
|
Titik kritis saat wukuf (7 – 8 jam) : ü Batas waktu dan tempat, wukuf hanya ada pada tanggal 9 Dzulhijjah tempatnya di Arafah dan berlangsung hanya sekitar 7 – 8 jam saja, belum tentu kita ada kesempatan lagi. Gunakan waktu wukuf seoptimal mungkin. ü Jenuh, kejenuhan, dalam suasana serba terbatas. Beberapa trik yang bisa dilakukan antara lain : Variasikan Dzikir dan Doa, Membaca Al-Qur’an, Tadabbur Alam (ambil waktu sejenak keluar dari tenda untuk berdoa dan merenungi kebesaran Allah SWT dengan melihat sekeliling), dan Introspeksi Diri (Muhasabah). ü Istirahat Fisik: aktifitas saat wukuf lebih banyak sambil duduk, manfaatkan waktu jeda untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh untuk perjalanan berikutnya ke Muzdalifah dan Mina. ü Hindari pembicaraan yang tidak perlu dengan sesama jemaah. ü Memperhatikan asupan makanan : kurang minum atau dehidrasi bisa memicu pusing, emosi, dan rasa jenuh yang lebih parah, pastikan selalu menjaga asupan cairan tubuh. |
|
|
Maghrib, 9 Dzulhijjah |
· Akhiri wukuf yang telah dilakukan dengan penuh syukur kepada Allah SWT. · Diberangkatkan ke Muzdhalifah untuk mabit secara bertahap sesuai jadwal yang ditentukan. · Selama menunggu diberangkatkan ke Muzdhalifat digunakan untuk istirahat. · Setibanya di Muzdhalifah melaksanakan sholat maghrib dan isya’ jamak qoshor, memungut kerikil untuk lempar jumrah (49/70 butir, sesuai pilihan nafar), berdzikir, berdoa dan istirahat (tidur/tidur-tiduran). · Menunggu diberangkatkan ke Mina – lewat tengah malam – sesuai jadwal kloter. |
|
Jemaah haji dengan kondisi tertentu menggunakan skema murur yaitu pergerakan jemaah haji dari Arafah menuju Mina yang melintasi Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun dari kendaraan untuk bermalam (mabit) |
|
|
10 – 13 Dzulhijjah 1447 (27 - 30 Mei 2026) |
· Setibanya di Mina melakukan serangkaian rukun/wajib haji yang dimulai dengan melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali lemparan kerikil. · Melakukan tahallul awal (mencukur atau memotong rambut), usai tahallul pakaian ihram bisa diganti dengan baju biasa. · Melaksanakan mabit di Mina, tanggal 11 Dzulhijjah (28 Mei 2026), melaksanakan lempar jumrah ula, wustha dan aqabah. · Melaksanakan mabit di Mina, tanggal 12 Dzulhijjah (29 Mei 2026), melaksanakan lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah. · Jemaah bisa memilih Nafar Awal atau Nafar Tsani. Nafar Awal berarti usai melempar jumrah tanggal 12 Dzulhijjah meninggalkan Mina, atau Nafar Tsani meninggalkan Mina menuju Makkah usai melempar jumrah ula, wustha dan aqabah tanggal 13 Dzulhijjah (30 Mei 2026). · Jemaah yang udzur untuk lempar jumrah (tanggal 10, 11, 12/13 Dzulhijjah) diwakilkan kepada jemaah lain, dan pelaksanaan lempar jumrah di bawah kendali dan pengaturan petugas kloter. |
|
Pada musim haji 2026 (1447 H), Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah menetapkan sebanyak 165 kelompok terbang (kloter) jamaah haji reguler Indonesia yang masuk dalam skema tanazul dari Mina. Melalui kebijakan ini, sekitar 20.000 hingga 50.000 jemaah yang tinggal di hotel area terdekat dengan Jamarat (seperti wilayah Syisyah, Jarwal, atau Raudhah) tidak akan mabit/menginap di tenda Mina, melainkan langsung kembali ke hotel pemondokan mereka setelah melaksanakan ritual lontar jumrah, penjelasannya klik di sini. Pengaturan kegiatan tanazul dan juga lempar jumrah pada hari tasyrik, diatur oleh Petugas Kloter. |
|
|
|
|
|
12/13 Dzulhijjah (29/30 Mei 2026) |
Usai dari Mina – nafar awaal atau nafar tsani – jemaah haji melaksanakan Rukun Haji yaitu tawaf ifadhah dan sa’i di Masjidil Haram sesuai ketentuan dan kemudian tahallul tsani (tidak harus tanggal 12/13 Dzulhijjah). |
|
Pelaksanaan tawaf ifadhah, sa’i dan tahallul sebagai bagian Rukun Haji ada praktek yang dilakukan jemaah : Usai lempar jumrah aqabah (tanggal 10 Dzulhijjah) jemaah langsung ke Masjidil Haram untuk tawaf ifadhah, sa’i dan tahallul, kemudian kembali ke Mina untuk mabit. |
Fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) ini adalah kegiatan dan aktifitas paling berat yang harus dilakukan oleh jemaah haji faktot kesehatan, kebugaran, mental, spiritual dan kesabaran seluruh jemaah haji diuji secara maksimal.
- Wukuf di Arafah : Jemaah Haji dihadapkan pada ujian fisik dan mental untuk berdiam diri dan memperbanyak doa di bawah terik matahari terbuka, di dalam ruang tenda yang benar-benar terbatas fasilitasnya.
- Mabit di Muzdalifah & Mina (10–13 Dzulhijjah) : Jemaah harus bermalam di bawah langit terbuka beralaskan tanah keras dan ketika di Mina, dalam tenda dengan ruang gerak terbatas dan kepadatan tinggi, serta mengantre fasilitas sanitasi bersama puluhan ribu jemaah lainnya.
- Lempar Jumrah di Mina (10–13 Dzulhijjah): satu-satunya akses adalah berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh—bisa mencapai beberapa kilometer pulang-pergi—untuk melempar jumrah di tengah cuaca panas dan lautan manusia.
Semoga seluruh jemaah haji yang berada di Tanah Suci, senantiasa diberikan kesehatan, kebugaran dan kemudahan dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji sebagaimana rukun dan wajib haji.
Kita yang di Tanah Air juga diberikan diberikan kesehatan, dan kemudahan untuk berziarah di Madinah dan melaksanakan ibadah haji/umrah di Makkah. Aamiin.
[Ambyah]
Disclaimer :
Tulisan ini merupakan diskusi tentang fase Armuzna antara penulis dengan Agus Hadi Prabowo (Alumni Petugas Haji Tahun 2018 dan 2023), bisa saja terdapat ketidaksesuaian maka yang benar berasal dari Kementerian Haji dan Umrah RI.
Foto : https://thehajj.guide/ms/hajj1.php#9th-dhul-hijjah-the-day-of-arafah
Related Articles