Membebaskan Imajinasi Anak Lewat Puisi: Jalan Sunyi yang Terlupakan di Era Digital

Artikel-Mu 05 May 2026 08:37 3 min read 8 views By Sumarti, S.Pd.

Share berita ini

Membebaskan Imajinasi Anak Lewat Puisi: Jalan Sunyi yang Terlupakan di Era Digital
Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan di ruang kelas. Ia adalah jalan pembentukan jiwa—tempat akal diasah, rasa dihidupkan, dan nilai ditanamkan. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya melahirkan manusia yang tahu, tetapi manusia yang mampu memahami makna kehidupan.

Membebaskan Imajinasi Anak Lewat Puisi: Jalan Sunyi yang Terlupakan di Era Digital

Oleh: Sumarti, S.Pd.

Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan di ruang kelas. Ia adalah jalan pembentukan jiwa—tempat akal diasah, rasa dihidupkan, dan nilai ditanamkan. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya melahirkan manusia yang tahu, tetapi manusia yang mampu memahami makna kehidupan.

Namun di tengah arus digitalisasi yang kian deras, ada satu ruang penting yang perlahan terpinggirkan: ruang imajinasi. Anak-anak belajar banyak hal, tetapi sedikit diberi kesempatan untuk membayangkan, merasakan, dan mengekspresikan dunia batinnya. Di sinilah puisi seharusnya hadir.

Puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara manusia membaca kehidupan. Ia melatih kepekaan, menghadirkan refleksi, dan menumbuhkan empati. Dalam tradisi Islam, kehalusan rasa (dzauq) merupakan bagian penting dari pembentukan akhlak. Tanpa itu, ilmu bisa kehilangan arah, dan kecerdasan menjadi kering dari makna.


Apa yang tergambar dalam puisi “Kampoengku” karya Haedar Nashir menunjukkan bahwa puisi mampu menjadi medium refleksi sosial dan spiritual. Puisi tersebut bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengkritik perubahan zaman—tentang lunturnya kebersamaan, tentang manusia yang semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan ini sejatinya sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang sejak awal menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari dakwah. Ahmad Dahlan tidak memisahkan antara agama dan kebudayaan, karena keduanya adalah jalan untuk membangun peradaban yang berkemajuan.

Namun ironi muncul di ruang kelas. Puisi justru diajarkan secara mekanis—sebatas baris, bait, dan rima. Anak-anak diminta menulis, tetapi tidak dibimbing untuk merasakan. Mereka belajar bentuk, tetapi tidak menyentuh makna. Akibatnya, puisi kehilangan ruhnya sebagai media pembentukan jiwa.


Padahal, Allah telah mengingatkan pentingnya kepekaan dan kesadaran dalam memahami kehidupan:

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Mengetahui dalam ayat ini bukan sekadar memahami secara intelektual, tetapi juga menyadari dengan hati. Di sinilah puisi menemukan relevansinya—sebagai jembatan antara akal dan rasa.

Di era digital, tantangan ini semakin besar. Anak-anak hidup dalam dunia visual yang cepat dan instan. Jika pendidikan tidak mampu menghadirkan ruang refleksi, maka generasi akan tumbuh cerdas, tetapi dangkal dalam pemaknaan.

Karena itu, pembelajaran puisi perlu dikembalikan pada esensinya: sebagai pengalaman. Teknologi bisa menjadi sarana, tetapi bukan tujuan. Yang utama adalah menghadirkan ruang bagi anak untuk membayangkan, merasakan, dan mengekspresikan diri.

Pada akhirnya, membebaskan imajinasi anak bukan sekadar urusan metode pembelajaran, tetapi bagian dari ikhtiar membentuk manusia seutuhnya. Manusia yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merasa; tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Sebab tanpa imajinasi, pendidikan hanya melahirkan manusia yang tahu banyak hal—tetapi kehilangan makna hidupnya.

Cokro15
Chat with us on WhatsApp