Sirine Menggema, Siswa SDN 3 Sukodono Pacitan Serentak Berlindung di Bawah Meja. Ada Apa?

Artikel-Mu 24 Apr 2026 21:00 2 min read 14 views By Dwi Setyaningsih, S.Pd., SD

Share berita ini

Sirine Menggema, Siswa SDN 3 Sukodono Pacitan Serentak Berlindung di Bawah Meja. Ada Apa?
SDN 3 Sukodono Pacitan menggelar Simulasi Tanggap Darurat Gempa Bumi pada Jumat pagi dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026. Mengusung tema "Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana", kegiatan edukatif ini bertujuan menanamkan budaya sadar risiko sejak dini, melatih kecepatan evakuasi siswa, serta menguji kesiapan dan koordinasi seluruh elemen sekolah saat menghadapi keadaan darurat.


Foto: Simulasi Bencana di SDN 3 Sukodono 

Pacitan - Suasana kegiatan belajar mengajar di SDN 3 Sukodono, Pacitan, mendadak riuh pada Jumat pagi. Suara sirine yang melengking tiba-tiba memecah keheningan jam pelajaran.

Mendengar tanda bahaya tersebut, para guru dengan sigap langsung memberikan seruan dan arahan. Puluhan siswa pun bergegas menunduk dan berlindung di bawah meja masing-masing.

Namun jangan panik dulu. Kejadian menegangkan ini bukanlah bencana alam sungguhan, melainkan bagian dari Simulasi Tanggap Darurat Gempa Bumi yang digelar oleh pihak sekolah.

Kegiatan edukatif ini dihelat secara khusus dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun 2026.

Guru SDN 3 Sukodono, Dwi Setyaningsih, S.Pd.SD., menjelaskan bahwa tahun ini peringatan HKB mengusung tema nasional "Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana". Berangkat dari tema tersebut, sekolah berkomitmen kuat untuk membangun budaya sadar risiko sejak usia dini.

"Melalui simulasi ini, kami ingin menanamkan budaya sadar risiko kepada anak-anak sejak dini. Mereka harus tahu langkah pertama yang harus dilakukan saat gempa terjadi, agar tidak panik," ujar Dwi Setyaningsih di lokasi, Jumat (24/4/2026).

Uji Kecepatan Evakuasi dan Koordinasi

Lebih lanjut, Dwi memaparkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar formalitas peringatan HKB. Ada target khusus yang ingin dicapai oleh pihak sekolah melalui praktik langsung di lapangan.

Simulasi ini secara khusus dirancang untuk melatih kecepatan dan ketepatan evakuasi siswa dari dalam kelas menuju titik kumpul aman (assembly point) yang berada di lapangan terbuka.

"Tidak hanya melatih kecepatan evakuasi anak-anak, momen ini juga sangat penting untuk menguji bagaimana koordinasi antarpihak di lingkungan sekolah saat kondisi darurat benar-benar terjadi," jelas Dwi.

Dengan adanya simulasi rutin seperti ini, diharapkan seluruh elemen di SDN 3 Sukodono, mulai dari siswa, guru, hingga staf sekolah, memiliki insting kesiapsiagaan yang baik.

"Harapannya sesuai dengan tema tahun ini, kita semua bisa bersatu dalam kesiagaan, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang benar-benar tangguh dalam menghadapi potensi bencana," pungkasnya.

Editor: BSU

Cokro15
Chat with us on WhatsApp