Simulasi Evakuasi Mandiri, SD Negeri Menadi
Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Tahun 2026 , SD Negeri Menadi Pacitan menggelar simulasi evakuasi mandiri akibat terjadinya gempa bumi, pada Senin, 27 April 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 80 siswa siswa dan 10 guru serta karyawan sekolah. Kegiatan ini bekerja sama dengan Lazismu - MDMC Pacitan, yang diwakili oleh Bambang Setyo Utomo, MMB dan Minhatul Haniah sebagai pemateri.
Simulasi dimulai dengan pemaparan materi oleh Bambang, yang menjelaskan urutan apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi terjadi saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam uraian materinya, Bambang mengungkapkan pentingnya pengetahuan dasar apa yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi, terutama sedang proses belajar mengajar ataupun ketika di dalam ruang kelas. Beberapa langkah penting yang disampaikan antara lain berlindung di kolong meja, berlindung di sudut ruangan yang jauh dari jendela dan barang-barang yang bisa jatuh, serta melindungi kepala dengan tas, buku, atau benda lainnya untuk mengurangi risiko cedera.
“Simulasi ini penting karena bertujuan agar siswa, guru, dan seluruh warga sekolah bisa lebih siap menghadapi gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pengetahuan tentang cara-cara menyelamatkan diri sangat penting, atau evakuasi mandiri karena gempa bumi, kita hidup di Pacitan yang rawan bencana,” ungkap Bambang saat memberi penjelasan.
Setelah sesi penyuluhan, simulasi dilanjutkan dengan praktek langsung. Para siswa dan guru diinstruksikan untuk melakukan evakuasi ke titik kumpul yang aman, sesuai dengan prosedur yang telah diajarkan sebelumnya.
Kepala SD Negeri Menadi, Sukatno, menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar seluruh warga sekolah dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk menjaga keselamatan diri masing-masing dalam situasi darurat. “Kami sangat mengapresiasi MDMC Pacitan yang telah memberikan pelatihan ini. Semoga seluruh peserta, baik siswa maupun guru, dapat lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan bencana sebagai upaya pengurangan risiko bencana,” ujar Sukatno.
Kegiatan ini merupakan bagian upaya mengenali bahaya dan keadaan darurat yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya sadar menghadapi bencana, yang secara periodik hendaknya dilakukan.
[Minha]
Related Articles