Pakar Geologi ITS Tekankan Pentingnya Mitigasi Sekolah Aman Gempa dan Waspadai 'Kaskade Bencana'

Foto: Tangkapan layar webinar
Surabaya - Bencana gempa bumi tidak bisa diprediksi, dihindari, apalagi dijinakkan. Oleh karena itu, catatan gempa terbesar di masa lalu harus menjadi fondasi utama dalam merencanakan tata ruang hingga memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Webinar Nasional Seri#307 bertajuk "Sekolah dan Madrasah Aman Gempa" yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau.
Amien mengingatkan, sejarah mencatat betapa dahsyatnya dampak gempa pada lingkungan pendidikan jika kesiapan prosedural tidak terbangun dengan baik. Ia mencontohkan tragedi Gempa Meksiko 1985 yang merenggut lebih dari 10.000 jiwa, hingga Gempa Sichuan 2008 yang menewaskan ribuan siswa akibat gedung sekolah yang runtuh lapis demi lapis (pancaked).
"Di dalam negeri, peristiwa Gempa Cianjur pada November 2022 juga mencatat duka mendalam. Sebanyak 10 guru dan 42 murid—yang didominasi anak-anak SD—meninggal dunia. Pelajaran pentingnya adalah kelangsungan hidup di sekolah tidak bergantung pada keberuntungan, melainkan penguasaan prosedur dalam hitungan detik," ujar Amien.
Menurutnya, keputusan yang salah saat guncangan terjadi, seperti panik dan berlari, sering kali menjadi penyebab utama fatalitas dibanding runtuhnya bangunan itu sendiri. Dalam hal ini, guru memegang peranan kunci sebagai tokoh utama penyelamatan.
4 Alasan Sekolah Menjadi Area Rentan Risiko Gempa
Amien memaparkan setidaknya ada empat faktor utama yang menjadikan lingkungan sekolah sangat rentan dan berisiko tinggi saat terjadi gempa bumi:
-
Kepadatan Hunian yang Tinggi: Sekolah mengonsentrasikan ratusan hingga ribuan siswa dalam satu area. Rasio sekitar 30 siswa per kelas menjadi tantangan logistik yang besar untuk menjaga ketertiban di tengah kepanikan massal.
-
Bangunan Prefabrikasi dan Kelas Portabel: Penggunaan ruang kelas tambahan portabel yang tidak tertanam kuat ke fondasi sangat rentan bergeser, miring, atau terlepas dari tumpuannya saat diguncang gempa hebat.
-
Populasi Rentan: Anak-anak, terutama usia dini, belum memiliki pengalaman atau penilaian risiko (judgment) yang matang untuk mengambil keputusan instan. Mereka sangat bergantung pada arahan dan ketenangan guru.
-
Bahaya Non-Struktural (Proyektil): Furnitur seperti rak buku, peralatan teknologi, hingga dekorasi dinding yang tidak terikat kuat bisa terlempar menjadi proyektil berbahaya yang melukai siswa sebelum sempat berlindung.
Waspadai Bahaya Berantai (Earthquake Cascading Hazards)
Selain kondisi fisik sekolah, Amien juga menyoroti pentingnya memahami fenomena kaskade gempa atau bahaya berantai (earthquake cascading hazards). Fenomena ini terjadi ketika satu guncangan awal memicu serangkaian bencana susulan yang dampaknya sering kali jauh lebih mematikan daripada gempa utamanya.
Ia mengelompokkan kaskade bencana ini menjadi tiga rantai utama:
-
Kaskade Fisik-Geologi (Alam ke Alam): Gempa memicu bencana alam lain seperti tanah longsor yang menyumbat sungai hingga memicu banjir bandang (seperti Gempa Wenchuan 2008), atau pergeseran tanah, tsunami, dan likuifaksi (seperti Gempa Palu 2018).
-
Kaskade Infrastruktur & Teknologi (Alam ke Manusia): Guncangan merusak utilitas vital. Pipa gas pecah dan jaringan listrik putus dapat memicu kebakaran hebat di tengah lumpuhnya pasokan air padam (seperti Gempa Kobe 1995). Contoh ekstrem lainnya adalah Gempa dan Tsunami Fukushima 2011 yang menyebabkan kegagalan sistem pendingin nuklir.
-
Kaskade Sosio-Ekonomi & Kesehatan (Jangka Panjang): Hancurnya sanitasi pascagempa berisiko memicu wabah penyakit menular (seperti kolera pada Gempa Haiti 2010), kelangkaan pangan, hingga krisis pengungsi.
Bebas dari "Jebakan Bahaya Tunggal" dan Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana
Amien menyayangkan selama ini mitigasi bencana masih sering terjebak pada penanganan bahaya tunggal (single hazard). Mitigasi kerap hanya berfokus pada kekuatan guncangan gempa, tanpa memperhitungkan kombinasi bahaya yang datang bersamaan atau berurutan.
"Risiko bencana akan berlipat ganda karena sistem penanganan darurat sering kali sudah lumpuh oleh bencana pertama sebelum sempat menangani bencana berikutnya," tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Pegiat Kebencanaan dari Pacitan, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B. Ia menekankan bahwa dalam dunia pendidikan, khususnya penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), perencanaan simulasi dan prosedur tidak boleh dangkal.
"Memandang bencana khususnya gempa bumi tidak bisa dilepaskan dari bencana-bencana susulan. Untuk itu, ketika berbicara SPAB, dalam membuat skenario evakuasi maupun SOP tidak boleh hanya mengacu pada satu bencana yaitu gempa. Hal ini untuk mengajari warga sekolah agar siap jika terjadi gempa bumi yang disertai bencana susulan," tegas Bambang.
Amien menyimpulkan bahwa seluruh pihak, khususnya komunitas sekolah, harus mulai membangun budaya PROAKTIF.
"Bersikap proaktif adalah bagaimana kita mengendalikan situasi, bukan dibiarkan dikendalikan oleh keadaan. Kita harus terus belajar, menemukan solusi yang tepat, memperkuat bangunan tahan gempa, hingga memastikan kesiapsiagaan prosedur keselamatan agar rantai kaskade bencana ini bisa diputus dan nyawa dapat diselamatkan," pungkas Amien. (Elp)
Related Articles