Dua Zona Ini Juga Mematikan! Praktisi Ingatkan Ancaman Sesar Aktif dan Back Arc Thrust Usai Gempa NTT
Artikel-Mu
15 Aug 2026 12:35
•
2 min read
•
189 views
•
By Bambangelpacitano
Guncangan gempa NTT menjadi alarm pentingnya kewaspadaan bencana. Praktisi kebencanaan Bambang Setyo Utomo mengingatkan agar perhatian tidak hanya tertuju pada zona *megathrust*. Ancaman besar juga datang dari sesar aktif di darat yang dangkal serta zona *back-arc thrust* di perairan utara yang memicu gempa destruktif dan tsunami cepat.

Pacitan - Guncangan gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi kembali menjadi alarm keras bagi sistem mitigasi bencana di tanah air. Publik dinilai kerap kali salah fokus dengan hanya mewaspadai zona megathrust di selatan Indonesia.
Praktisi mitigasi bencana Pacitan, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B., mengingatkan bahwa sumber ancaman guncangan besar dan tsunami tidak semata-mata berasal dari bentangan megathrust.
"Ingat fokus kita BUKAN HANYA di zona Mega thrust-nya saja tetapi juga sesar dan zona back arc thrust. Selama ini kita hanya fokus di barat dan selatan dan timur Indonesia yang memiliki zona mega thrust, jangan lupa bahwa kita juga punya sesar seperti yang memicu gempa Bantul Jogja 2006 dan di utara Jawa sampai NTT punya beberapa zona BAT (Back Arc Thrust) yang juga bisa memicu gempa besar dan tsunami seperti di Flores tahun 1992 lalu," ujar Bambang kepada rumahmu.online, Sabtu (15/8/2026).
Peringatan tersebut relevan dengan peristiwa gempa bumi dangkal di perairan utara Flores hari ini. Karakteristik patahan atau sesar naik di wilayah laut utara (zona Back-Arc Thrust) terbukti mampu membangkitkan guncangan destruktif serta potensi gelombang tsunami mendadak lantaran posisinya yang relatif dekat dengan pesisir.
Selain zona perairan utara, keberadaan sesar aktif di wilayah daratan juga patut diwaspadai secara ketat. Sesar darat kerap berada tepat di bawah area permukiman padat penduduk. Meski magnitudonya terkadang lebih kecil dibanding gempa megathrust, kedalamannya yang dangkal sanggup merubuhkan bangunan infrastructure dalam hitungan detik—sebagaimana memori kelam Gempa Bantul pada 2006 silam.
Peristiwa gempa bumi NTT pagi ini menjadi pijakan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak mengabaikan pemetaan sesar aktif lokal serta kesiapsiagaan tsunami di jalur back-arc, di samping mitigasi rutin zona megathrust.
Related Articles
Recent Articles
•
Ancaman Gempa Intraslab Kolombia Mw 7,4 dan Alarm Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana Indonesia
•
Muncul 3 Klaster Gempa di Pulau Jawa, Pegiat Kebencanaan: Momen Bumi Lepas Energi
•
Hadiri Muktamar ke-15 di Solo, PDNA Pacitan Kawal Arah Gerak Perempuan Muda
•
Bersedekah Air Bersih Bersama Lazismu
•
Pakar Geologi ITS Tekankan Pentingnya Mitigasi Sekolah Aman Gempa dan Waspadai 'Kaskade Bencana'
•
Jawa Lagi Dingin-dinginnya, Ini 5 Fakta Fenomena Bediding Menurut BMKG
•
Berangkat Haji, Ikut KBIH atau Tidak?
•
Cetak Pendidik Tangguh Bencana, BPBD Jatim Gelar TOF SPAB untuk Sekolah
•
Lazismu Bersama Masyarakat Antisipasi Krisis Air Bersih
•
Gelar Pelatihan SPAB, Sinergi BBPMP Jatim-BPBD Perkuat Resiliensi Sekolah di Pacitan
Popular Articles
•
Indonesia Siaga, Aksi Bersama Untuk Sesama
•
PW IGABA Jawa Timur Perkuat Kemandirian, Menuju PAUD Aisyiyah Unggul
•
Kegiatan Jemaah Haji Pacitan di Tanah Suci, Sebuah Rekaan Itinerary
•
Lembaga Amil Zakat (LAZ) Dalam Penanggulangan Bencana di Pacitan
•
Kegiatan Jemaah Haji, di Asrama Haji Surabaya