Ancaman Gempa Intraslab Kolombia Mw 7,4 dan Alarm Kesiapsiagaan Mitigasi Bencana Indonesia

Jakarta - Gempa bumi tektonik bermagnitudo Mw 7,4 yang mengguncang San José del Palmar, Kolombia pada Senin (10/8/2026) menjadi alarm keras bagi mitigasi bencana di Indonesia. Kendati berpusat di kedalaman menengah (110,3 km), guncangan hebat gempa intraslab ini melumpuhkan berbagai infrastruktur perkotaan dan merenggut ratusan korban jiwa.
Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menegaskan bahwa karakteristik gempa Kolombia memberikan pelajaran teknis yang sangat krusial bagi Indonesia, khususnya dalam konteks keselamatan bangunan sekolah dan fasilitas publik.
"Selama ini fokus mitigasi bencana kita di kawasan pesisir sering kali terpaku pada ancaman gempa megathrust dan potensi tsunami. Padahal, ada ancaman lain yang tak kalah destruktif, yaitu gempa intraslabkedalaman menengah seperti yang terjadi di Kolombia kemarin," kata Daryono.
Daryono menjelaskan, gempa intraslab terjadi akibat deformasi atau patahan internal di dalam lempeng samudra yang menunjam (slab pull), bukan di bidang kontak antarlempeng. Karena batuan lempeng penunjam bersifat kaku dan dingin, energi gelombang seismik berfrekuensi tinggi merambat sangat efisien tanpa mengalami reduksi/atenuasi yang signifikan.
"Akibatnya, meski hiposenternya berada di kedalaman lebih dari 100 km, daya rusak atau Peak Ground Acceleration (PGA) di permukaan tanah tetap sangat tinggi dan radius jangkauan guncangannya (felt area) sangat luas hingga ratusan kilometer," terangnya.
Keruntuhan Soft-Story dan Awan Debu Pekat
Menurut Daryono, ancaman utama dari gelombang berfrekuensi tinggi gempa intraslab adalah dampaknya terhadap struktur bangunan bertingkat non-standar, seperti fasilitas sekolah atau gedung publik berlantai terbuka.
"Di Kolombia kita melihat fenomena soft-story collapse atau kegagalan lantai dasar yang lemah, yang memicu keruntuhan bertingkat secara progresif (pancake collapse)," jelas Daryono. "Banyak gedung sekolah atau kantor bertingkat dua hingga tiga yang lantai dasarnya difungsikan sebagai ruang terbuka atau parkiran tanpa perkuatan dinding geser (shear wall) yang memadai. Saat dihantam beban lateral mendadak, struktur langsung runtuh."
Selain kerusakan fisik, Daryono juga menyoroti bahaya sekunder berupa hancurnya material beton dan bata rapuh (brittle material) secara mendadak yang mengompresi udara. Hal ini membangkitkan awan debu pekat (dust plume) masif yang melumpuhkan jarak pandang di area pemukiman dan koridor evakuasi.
Desak Audit Bangunan Sekolah dan Pembaruan SOP SPAB
Sementara itu dalam konteks Pacitan, dengan melihat kemiripan sistem subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam di sepanjang selatan Jawa dan Sumatra dengan tatanan tektonik Kolombia, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B. pegiat kebencanaan Pacitan yang juga alumnus Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta mendorong langkah konkret dari pemerintah daerah, BPBD, dan Dinas Pendidikan Pacitan.
"Ada tiga langkah darurat yang harus segera direalisasikan: pertama, lakukan audit keandalan struktur secara masif pada gedung-gedung sekolah bertingkat untuk mengidentifikasi potensi soft-story," ujar Bambang.
Kedua, lanjut Bambang, pembaruan prosedur operasional standar (SOP) dalam program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Simulasi evakuasi sekolah tidak boleh lagi sekadar berasumsi pada guncangan awal, tetapi wajib memasukkan skenario penanganan bahaya sekunder.
"Siswa dan guru harus dilatih mengantisipasi jarak pandang nol akibat awan debu pekat—misalnya dengan membawa kain basah atau masker di emergency kit kelas—serta mengantisipasi lontaran puing (falling debris) dan risiko kebakaran pascaguncangan," tegasnya.
Ketiga, ia mengimbau agar pemetaan risiko bencana dan rekayasa standar bangunan (building code) di tingkat daerah benar-benar memperhitungkan potensi spektrum getaran gempa intraslab.
"Edukasi publik juga harus diperkuat. Masyarakat perlu paham bahwa gempa tanpa potensi tsunami bukan berarti gempa yang aman. Gempa intraslab terbukti mampu meremukkan bangunan daratan secara masif walau tak membangkitkan gelombang laut," pungkas Bambang.
Related Articles