Muncul 3 Klaster Gempa di Pulau Jawa, Pegiat Kebencanaan: Momen Bumi Lepas Energi

Artikel-Mu 09 Aug 2026 13:52 2 min read 33 views By Bambangelpacitano

Share berita ini

Muncul 3 Klaster Gempa di Pulau Jawa, Pegiat Kebencanaan: Momen Bumi Lepas Energi
Peningkatan aktivitas kegempaan di Pulau Jawa selama tiga hari terakhir yang menghasilkan tiga klaster utama di Bogor, Garut, dan Bantul dinilai oleh pegiat kebencanaan Bambang Setyo Utomo sebagai proses alami pelepasan energi tektonik bumi melalui pelepasan berskala kecil hingga sedang—baik dari sesar darat maupun zona subduksi laut—sehingga masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap meningkatkan mitigasi serta kesiapsiagaan mandiri.

Foto: Kegempaan di Jawa dalam 3 hari terakhir 

Pacitan - Aktivitas kegempaan di Pulau Jawa menunjukkan peningkatan dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan data peta sebaran episenter BMKG, tercatat ada tiga klaster utama gempa yang bergerak aktif, yakni di barat daya Bogor (Jawa Barat), laut selatan Garut (Jabar), dan laut selatan Bantul (DIY).

Fenomena bermunculannya klaster gempa di jalur darat maupun laut ini mendapat perhatian dari pegiat kebencanaan Pacitan yang juga alumnus Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B.

Bambang menjelaskan bahwa munculnya fenomena klaster—baik yang dipicu oleh aktivitas gempa susulan (aftershocks) maupun earthquake swarm (gempa swarm)—merupakan respons alami bumi dalam melepaskan penumpukan energi tektonik.

"Kalau kita lihat pola sebarannya, ada dinamika yang menarik. Di Bogor, itu terjadi akibat struktur patahan atau sesar aktif darat lokal. Sedangkan klaster di selatan Garut dan selatan Bantul berasosiasi langsung dengan zona penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Eurasia di Samudra Hindia," ujar Bambang saat dihubungi, Minggu (9/8/2026).

Menurut Bambang, masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan menyikapi fenomena bergerombolnya titik gempa tersebut. Justru, keberadaan gempa-gempa kecil yang terdistribusi dalam bentuk swarm atau susulan dapat membantu proses pelepasan energi secara bertahap.

"Secara teori, melepaskan energi secara perlahan melalui gempa-gempa kecil bergerombol itu mengurangi risiko penumpukan energi masif di satu titik. Namun, kewaspadaan tentu tidak boleh kendor, terutama untuk wilayah pesisir selatan Jawa dan area daratan yang dilalui jalur sesar," jelasnya.

Bambang menekankan pentingnya penguatan mitigasi struktural dan non-struktural di tingkat tapak. Bagi masyarakat di kawasan darat yang dekat dengan klaster gempa dangkal seperti Bogor, ketahanan struktur bangunan rumah menjadi kunci utama. Sementara bagi warga pesisir selatan Jawa, dari Garut hingga DIY dan Jawa Timur, pemahaman jalur evakuasi mandiri tsunami tetap menjadi prioritas utama.

"Prinsip utamanya adalah kenali bahayanya, kurangi risikonya. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau pembaruan informasi resmi hanya dari BMKG, tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong (hoaks), serta menguji kembali kesiapsiagaan di lingkungan keluarga dan sekolah masing-masing," pungkas Bambang. (Elp)
Cokro15
Chat with us on WhatsApp